visitaaponce.com

Kemenkes Program KB Penting Turunkan Angka Kematian Ibu

Kemenkes: Program KB Penting Turunkan Angka Kematian Ibu
Bidan memeriksa kesehatan janin dari seorang ibu hamil di sebuah klinik di Karawang, Jawa Barat, Selasa (19/7/2022).(ANTARA/ANDI BAGASELA)

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) menyebut bahwa program kontrasepsi atau keluarga berencana (KB) penting untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI).

"Program KB ini sangat penting dalam percepatan penurunan AKI, yang memang harus kita perkuat, dan fokus ke sasaran program KB kita, jadi bukan sekadar cakupannya tinggi, tetapi fokus ke pasangan usia subur yang berisiko," ujar Ketua Tim Kerja Kesehatan Reproduksi, Direktorat Kesehatan Usia Produktif dan Lanjut Usia Kemenkes, dr Wira Hartiti seperti dilansir dari Antara, Kamis (6/6).

Ia juga memaparkan, jumlah notifikasi kematian ibu di 38 provinsi masih sangat tinggi. Berdasarkan Maternal Perinatal Death Notification (MPDN) atau sistem pencatatan kematian ibu Kementerian Kesehatan, tahun 2022 kematian ibu sebanyak 4.040 jiwa, dan tahun 2023 sebanyak 4.482 jiwa, masih jauh di atas target AKI tahun 2024 yakni 183 per 100.000 kelahiran hidup.

Baca juga : Digitalisasi Jadi Faktor Utama Transformasi Kesehatan

"Kalau kita lihat dari penyebab utama kematian pada 2023 itu, di tahun ini bergeser, kalau dulu tiga terbesar itu perdarahan, preeklampsia (keracunan pada kehamilan yang menyebabkan ibu mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi), dan infeksi," ungkapnya. 

Sedangkan saat ini (tahun 2024), penyebab angka kematian ibu naik sebagian besar akibat komplikasi non-obstetri, atau masalah kesehatan lain di luar kehamilan.

"Stunting juga menjadi penyebab. Ini terjadi karena meningkatnya penyakit tidak menular," ucapnya.

Baca juga : Pusat Krisis Kesehatan Respons Cepat Dampak Erupsi Gunung Ruang

Ia juga mengutarakan, faktor risiko terbesar kematian ibu juga disebabkan oleh 'empat terlalu'. "Faktor risiko terbesar kematian ibu ini karena hamil dalam kondisi empat terlalu, pertama, terlalu tua, lebih dari 35 tahun, kedua, terlalu muda akibat pernikahan remaja yang meningkat (kurang dari 20 tahun), ketiga, terlalu sering hamil, dan jarak kehamilan terlalu dekat atau kurang dari tahun," tuturnya.

Menurutnya, ibu hamil dengan faktor risiko yang tinggi menyebabkan angka kematian ibu tinggi, karena ibu hamil dalam kondisi yang berisiko sulit ditangani oleh tenaga kesehatan.

"Sebaik apapun faskesnya, karena ibunya sudah berisiko, akan sulit menanganinya sehingga kemungkinan kematian akan tinggi, juga ibu hamil dalam kondisi mempunyai masalah kesehatan, di mana masalah kesehatannya tidak diketahui sebelumnya, sehingga saat hamil tidak terkontrol," kata dia.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya memastikan dan memperkuat penggunaan alat kontrasepsi agar tepat sasaran di pasangan usia subur. Selain itu, lanjut dia, sudah banyak upaya yang telah dilakukan Kemenkes, mulai dari intervensi sebelum hamil, saat hamil hamil, bersalin, hingga nifas.

"Bagaimana meningkatkan kesadaran sejak usia dini, dari remaja yang kita persiapkan, memahami kesehatan reproduksi sampai hamil, jadi mulai dari remaja, calon pengantin, sampai pasangan usia subur, utamanya yang berencana hamil, harus merencanakan kehamilan saat usia remaja," ungkapnya. (Z-6)

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Budi Ernanto

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat