visitaaponce.com

Yuk, Berkunjung ke Kebun Teh Taraju Tasikmalaya

Yuk, Berkunjung ke Kebun Teh Taraju Tasikmalaya
Lahan perkebunan teh di Desa Taraju dan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya(MI/KRISTIADI)

DI daerah Desa Taraju dan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, terdapat lahan perkebunan teh seluas 8.072 hektare berada di Kecamatan Taraju dan Bojonggambir seluas 7.700 hektare.

Lokasi tersebut tahun 2023 telah dinobatkan sebagai juara pertama kategori Digital dan Kreatif di ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Tak heran jika kemudia lahan perkebunan teh yang menghijau tersebut menarik perhatian wisatawan lokal dan mancanegera. 

Kepala Desa Mangkonjaya, Bojongambir, Dedi Mulyadi mengatakan, perkebunan teh berada di Kecamatan Taraju dan Bojonggambir saat ini perlu dikembangkan kembali terutamanya menjadi kawasan destinasi wisata unggulan setelah dinobatkan sebagai juara pertama kategori Digital dan Kreatif ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023. Karena, pemerintah daerah tidak ada tidaklanjut atas perkembangan tersebut terutama infrastruktur masih dalam kondisi rusak.

Baca juga : Kalsel Susun Perda untuk Kemudahan Investasi

"Kawasan perkebunan teh Bojonggambir dan Taraju masih terus dilakukan penataan hingga menggali potensi sumber penghasilan supaya dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) termasuk sumber penghasil pemerintah desa. Namun, penggolahan tersebut selama ini membutuhkan investor dari dalam maupun luar karena masih banyak lahan perlu dikelola seperti pohon coklat, kopi Taraju," katanya, Sabtu (15/6/2024).

Ia mengatakan, perkebunan teh di Kecamatan Taraju dan Bojonggambir memiliki luas lahan 15.772 hektare menjadi kawasan yang selama ini memiliki potensi besar bagi kesejahteraan bagi masyarakat dan sumber pendapatan asli daerah (PAD) sebelum ada pemekaran daerah otonomi baru (DOB) Kabupaten Tasikmalaya selatan. Akan tetapi, dengan hamparan lahan yang luas dapat mengembangkan wisata agro dan meningkatkan pengunjung wisata berada di daerah penghijauan.

"Pengembangan wisata setelah meraih juara pertama kategori Digital dan Kreatif di ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tak ada tindak lanjut dari pemerintah daerah. Kini, pemerintah desa telah berupaya melanjutkan kawasan tersebut menjadi daya tarik wisata guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat termasuk petani," ujarnya.

Baca juga : Jumlah Wisatawan ke Kabupaten Tasikmalaya Meningkat

Menurutnya, produksi pengolahan teh Taraju memang terus berkembang menjadi kawasan wisata dengan mengolah produk teh kemasan lain berupa panin, Taraju, merah hingga semua barang baku dijual ke pasaran setelah kering untuk dinikmati masyarakat. Karena, memang teh Taraju ini tidak kalah bersaing dengan luar negeri yang dimiliki negara Vietnam, Pakistan.

Perkembangan teh Taraju selama ini tak hanya untuk kebutuhan seduh bagi masyarakat, tapi bisa dikembangkan hingga dikemas menjadi bahan obat-obatan, kecantikan dan lainnya. Namun, hamparan perkebunan teh selama ini masih butuh investor terutama memajukkan kembali menjadi wisata agro termasuk para calon bupati dan wakil bupati harus memiliki komitmen ke depannya.

"Perkebunan teh yang dilakukannya selama ini ada 1500 hektare lahan telah dialih fungsikan menjadi tanaman cabai merah TW dan tujuan agar petani teh bisa menambah penghasilan tambahan selain memetik teh. Namun, dalam pengembangan produksi teh Taraju selama ini sudah berdiri 13 pabrik dan di Bojonggambir 6 pabrik termasuk mesin pengeringan dengan jumlah pekerja ada 2.000 orang lebih mulai pemetik manual memakai etem (pisau) anik, memilih dan memisahkan tulang, jikeng serta Teko," paparnya.

Baca juga : Polres Tasikmalaya Kota Waspadai Arus Balik pada Sabtu dan Minggu

Wakil Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin mengatakan, perkebunan teh di Kecamatan Taraju dan Bojonggambir mamang sekarang menjadi prioritas utama bagi kehidupan warga supaya dapat meningkatkan kesejahteraan dan pemerintah daerah bisa menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD). Namun, untuk pengembangan produksi teh harus didukung infrastruktur dan memang kawasan tersebut sangat menarik dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.

"Kawasan perkebunan teh sangat berpotensi meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dan ke depannya dipastikan kawasan tersebut menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Akan tetapi, di lokasi tersebut masih membutuhkan penataan supaya para pengunjung dari berbagai yang datang tidak langsung pulang tapi mereka menikmati dulu pemandangan alam," pungkasnya.

Berdasarkan laman resmi Kemendikbud-Ristek, tanaman teh pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1684, berupa biji teh dari Jepang yang dibawa oleh seorang warga Jerman bernama Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta. Pada tahun 1694, seorang pendeta bernama F. Valentijn melaporkan melihat perdu teh muda berasal dari China tumbuh di Taman Istana Gubernur Jenderal Champhuys di Jakarta.

Pada tahun 1826, tanaman teh berhasil ditanam melengkapi Kebun Raya Bogor, dan tahun 1827 di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Berhasilnya penanaman percobaan skala besar di Wanayasa (Purwakarta) dan di Raung (Banyuwangi) membuka jalan bagi Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, menaruh landasan bagi usaha perkebunan teh di Jawa.

Perkebunan teh di Jawa Barat berkembang semakin luas terutama di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya. Perkebunan teh di daerah Taraju, Kabupaten Tasikmalaya berkembang pesat setelah munculnya pabrik pengolahan teh di Desa Raksasari pada masa pemerintah Belanda. Pabrik teh Taraju dibangun di tahun 1909 oleh pemerintah Belanda dan tujuannya untuk memenuhi kebutuhan komoditi ekspor hasil perkebunan dari wilayah Jawa Barat dan setelah Indonesia merdeka, pabrik tersebut akhirnya dikuasai oleh Pemerintah Indonesia. (H-2)

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat