visitaaponce.com

Hari-hari Terakhir Kampung Nelayan di Pesisir Teluk Balikpapan

Hari-hari Terakhir Kampung Nelayan di Pesisir Teluk Balikpapan
Nelayan melintas di hutan mangrove Teluk Balikpapan, Kariangau, Kalimantan Timur.(Antara)

MUHAMMAD Rizal (37) baru saja melabuhkan kapalnya di dermaga Kampung Jenebora, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Laki-laki bersuku Bajau ini, sehari-hari melaut untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Selain melaut, Rizal juga bekerja sebagai Ketua RT di RT 02 Jenebora. Nyaris tak punya waktu istirahat, Rizal selalu sibuk mengurus kebutuhan rumah tangga dan mengurus warga-warganya. Senin hingga Kamis dia bekerja sebagai RT di darat, Jumat hingga Minggu dia akan bekerja sebagai nelayan.

Sebulan terakhir ini, kesibukan Rizal semakin bertambah. Setiap hari dia harus bolak-balik ke Penajam untuk mengurus masalah lahan dan kelangsungan hidup para nelayan di kampungnya. Beragam isu terkait pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menyebar hingga ke kampungnya. Jenebora, kampung nelayan yang merupakan peninggalan nenek moyangnya dikabarkan akan segera direlokasi dampak pembangunan IKN.

Baca juga : Tanggapi Djarot, Staf Khusus Presiden: Silakan Datang dan Lihat Sendiri IKN

"Sudah sebulan ini isunya terus bergulir. Kami ikuti beritanya di semua media. Terus terang warga semakin was-was. Apalagi orang-orang tua kami, apalagi kampung ini adalah kampung yang sudah ratusan tahun ditempati dari leluhur kami," katanya, Kamis (11/7).

Meski isu relokasi sudah bergulir, namun pihak Bank Tanah dan Pemerintah Kabupaten PPU belum menggelar sosialisasi terkait relokasi di Jenebora. Hal itu membuat warga nelayan semakin gundah. Mereka khawatir tiba-tiba terusir dan tidak jelas masalah ganti rugi lahan. Rizal menyebut, jika disuruh memilih semua warga menolak untuk direlokasi.

"Kami sudah bergantung pada kampung ini sejak lahir. Kalau ditanya apakah mau direlokasi, jawabannya tentu tidak. Tapi kami bukan warga yang anarkis, tapi sampai sekarang pemerintah juga belum pernah datang sosialisasi apapun," jelasnya.

Baca juga : Tanggapi Djarot, Staf Khusus Presiden: Silakan Datang dan Lihat Sendiri IKN

Lahan relokasi
Rizal menyebut, Bank Tanah telah menyiapkan 1.750 hektar lahan untuk kebutuhan relokasi warga Jenebora. Jika dihitung-hitung, angka tersebut masih cukup dengan jumlah warga yang ada. Jumlah KK di Jenebora sebanyak 1.056 KK dari 5 RT dengan total 3.298 jiwa.

Namun, rencana relokasi warga pesisir Teluk Balikpapan tidak hanya di Jenebora. Masih ada warga nelayan di Pantai Lango dan Gersik. Kedua desa itu bersebelahan langsung dengan Jenebora. Jika semua direlokasi di lahan yang telah disiapkan, besar kemungkinan lahan itu tidak cukup.

"Kita hitung rata-rata saja, jumlah KK di Jenebora saja sudah seribu lebih. Belum Pantai Lango, Gersik juga akan direlokasi. Ya tidak cukup kan," katanya.

Baca juga : Lapangan Upacara HUT ke-79 Kemerdekaan RI di IKN Sudah Siap Digunakan

Apalagi, warga di tiga desa tersebut sebagian besar adalah nelayan. Jika direlokasi di daratan, warga tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhan
hidup. Karena hidup mereka terlanjur bergantung pada laut.

"80% warga Jenebora itu nelayan. warga Gersik dan Pantai Lango juga sama. Infonya relokasi akan ditempatkan di Riko. Kawasan itu jauh dari
laut, jelas ini sangat menyulitkan,� sebutnya.

Untuk itu pihaknya memohon pada Pemerintah setempat agar mengkaji ulang rencana relokasi warga Jenebora. Pasalnya, memindahkan warga juga harus memindahkan lautnya. Maksudnya, warga harus berdekatan dengan lokasi mata pencarian sebagai nelayan.

Baca juga : Bantah Rencana Berkantor Presiden Ditunda, Menteri PUPR Pastikan Kesiapan Infrastruktur IKN Rampung di Juli

"Kami nelayan, itulah kearifan kami sebagai warga pesisir di Teluk Balikpapan ini. Tidak terbayangkan lagi, kalua sampai relokasi nanti, kami harus jauh dari laut. Kami berharap pemerintah bisa mengkaji ulang rencana itu," sebutnya.

Penjabat Bupati PPU, Makmur Marbun membenarkan adanya rencana relokasi warga pesisir Teluk Balikpapan. Menurutnya, relokasi tersebut dilakukan di desa-desa yang masuk dalam kawasan pengembangan Bandara VVIP IKN. "Iya di relokasi untuk yang masuk kawasan pengembangan," katanya.
 
Nantinya masyarakat terdampak tidak hanya menerima penggantian lahan, tapi juga bantuan unit usaha bagi masing-masing warga. "Jadi bisa usaha dengan pengembangan usaha mikro kecil dan menengah," tutupnya.

 

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat