visitaaponce.com

Pengamat Pencalonan Anies di Pilgub DKI Berkaitan dengan Pilpres 2029

Pengamat : Pencalonan Anies di Pilgub DKI Berkaitan dengan Pilpres 2029
Mantan Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, Anies Baswedan disambut para kader PKB saat tiba di Kantor DPW DKI Jakarta di Pulogadung(MI / Usman Iskandar)

PENGAMAT komunikasi politik Emrus Sihombing menanggapi terkait peta politik pemilihan gubernur DKI Jakarta, dimana ada kemungkinan Anies Baswedan mencalonkan diri menjadi gubernur DKI, serta wacana Kaesang Pangarep juga maju di kontestasi ini.

Dia mengatakan bisa saja dengan Anies mencalonkan diri untuk kembali menjadi Gubernur DKI, seolah terlihat "turun kelas". Sebab sebelumnya Anies mencalonkan diri sebagai calon presiden dan pernah menjadi gubernur.

"Dimana menjadi calon presiden dianggap suatu prestasi yang meningkat. Namun situasi politik kita di seluruh Indonesia termasuk politik di daerah (Pilkada) sangat anomali, dan tidak bisa kita duga," kata Emrus, melalui keterangan yang diterima, Selasa (18/6). 

Baca juga : PKS belum Tentu Usung Anies Baswedan di Pilgub DKI

Alasannya basisnya adalah perhitungan kalah dan menang, dan bukan ideologi. "Di situ persoalannya politik di Indonesia bahkan untuk seluruh pusat dan daerah," kata Emrus.

Kalau paslon berjuang untuk ideologis, kata Emrus, itulah yang ideal. Namun untuk mencapai persaingan yang ideal itu, bisa saja sebagai suatu strategi, seseorang memilih mundur selangkah artinya menjadi calon gubernur DKI Jakarta, untuk kemudian maju beberapa langkah untuk menjadi calon presiden di 2029 nanti.

"Itu juga menjadi salah satu strategi. Tetap tujuan akhirnya adalah untuk menjadi calon presiden," kata Emrus.

Baca juga : Tanggapi PKB, PSI: Duet Anies dan Kaesang Tidak Pernah Dibicarakan

Di sisi lain, dia juga melihat, wacana Kaesang untuk maju di Pilkada, apabila ditarik ke belakang, terpilihnya putra Jokowi menjadi ketua PSI berdasarkan penunjukan bukan melalui proses politik pemilihan di partai yang dipimpinnya.

"Coba dicek, anggaran dasar rumah tangga mereka, proses kepemimpinan di sana apakah memang langsung penunjukkan. Yang menariknya adalah hanya hitungan jari menjadi kader, langsung menjadi ketua umum," kata Emrus.

Dia menekankan hal tersebut pendidikan politik yang tidak baik. Alasannya seseorang yang bukan kader politik sama sekali, menjadi kader baru, langsung menjadi ketua umum. Itu dapat menimbulkan kecemburuan sosial di dalam partai tersebut.

Baca juga : PKB Jakarta Resmi Dukung Anies di Pilgub Jakarta

"Kan dia belum memahami proses politik. Baru kemudian budaya politik, rekrutmen politik. Kalau politik itu dipersepsikan sebagai sesuatu yang mudah, dan lain-lain, saya kira saya tidak setuju," kata Emrus.

Politik filosofisnya adalah mengambil kebijakan di kota untuk kesejahteraan masyarakat kota, dan mengambil kebijakan pun tidak mudah, ada proses politik, studi kebijakan publik.

"Jadi kalau terlalu menggampangkan maka yang menjadi korban adalah rakyat," kata Emrus.

Baca juga : PKB Masih Godok Kelayakan Anies di Pilgub Jakarta

Setelah Kaesang memimpin PSI pun, nyatanya partai tersebut tidak masuk ke Parlemen di Senayan.

"Jadi seharusnya jangan dulu Kaesang diajukan sebagai calon kepala daerah untuk DKI Jakarta, atau gubernur. Biarkan memulai dari bupati atau wali kota. Itu pun di kabupaten, atau di kotamadya. Supaya ada di sana latihan. Saya pikir jangan dulu dipaksakan, karena ini soal bagaimana rakyat Jakarta bisa sejahtera," kata Emrus.

Kalaupun harus maju di kontestasi Pilkada, dia meminta Kaesang maju dengan kekuatan politik sendiri.

"Mungkin dipersiapkan untuk calon independen, baru partai politik mana yang mengusung," kata Emrus. (Z-8)

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putra Ananda

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat