visitaaponce.com

Digitalisasi Jadi Faktor Utama Transformasi Kesehatan

Digitalisasi Jadi Faktor Utama Transformasi Kesehatan
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalucia(ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

KEMENTERIAN Kesehatan bertekad mewujudkan transformasi kesehatan yang menyeluruh. Salah satunya melalui transformasi digital di layanan kesehatan.

Karena itu, kolaborasi antara pemimpin serta penentu keputusan di rumah sakit dan laboratorium adalah kunci dalam menghadapi tantangan kesehatan yang kompleks.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalucia dalam acara Sysmex Indonesia CEO Forum 2024 di Raffles Hotel, Jakarta, Kamis (16/5).

Baca juga : HIMSS23 APAC Health Conference & Exhibition Wujudkan Sistem Kesehatan Inklusif

Menurut Rizka, digitalisasi kesehatan berpotensi menjadi faktor utama transformasi kesehatan. Digitalisasi, katanya, memberikan dukungan konektivitas antarpemangku kepentingan.

Tujuannya agar kondisi aktual sistem kesehatan menjadi semakin transparan, mengurangi asimetris informasi antara penyelenggara dengan masyarakat, dan mewujudkan sistem kesehatan yang lebih efektif dan efisien.

"Untuk itu, diperlukan kerja sama dari semua pemangku kepentingan untuk dapat menavigasi perkembangan ini ke arah sistem kesehatan yang lebih baik dan merata kepada masyarakat," katanya.

Baca juga : Pusat Krisis Kesehatan Respons Cepat Dampak Erupsi Gunung Ruang

Salah satu yang didorong Kemenkes adalah integrasi fasilitas kesehatan (faskes) dengan platform Satusehat. Satusehat adalah ekosistem pertukaran data kesehatan yang menghubungkan sistem informasi atau aplikasi dari seluruh anggota ekosistem digital kesehatan Indonesia termasuk fasyankes, regulator, penjamin, dan penyedia layanan digital.

Staf Ahli Teknologi Kesehatan Kemenkes Setiaji mencontohkan pentingnya Indonesia memiliki rekam medis elektronik.

"Cita-cita kita ingin agar data riwayat kesehatan kita sejak dari kandungan, dilahirkan, remaja, dewasa, sampai meninggal itu tercatat," katanya pada kesempatan yang sama.

Baca juga : Kemenkes Minta Masyarakat Waspada terhadap Penyakit Menular saat Mudik Lebaran

Ketika seluruh faskes sudah terintegrasi dengan platform tersebut, dokter, misalnya, sudah tahu profil pasien dari membaca riwayat seluruh faskes yang ada di Indonesia.

Karena itu dokter tidak perlu menanyakan pernyataan template seperti riwayat penyakit, konsumsi obat, dan sebagainya.

"Yang kita integrasikan bukan hanya data pada saat pasien berkunjung di rumah sakit secara fisik, tetapi yang melalui layanan online (telemedisin). Saat ini sudah ada 6 startup telemedisin yang lolos (verifikasi)," katanya.

Baca juga : Hipertensi Jadi Penyakit Paling Banyak di Pos Kesehatan Mudik

Setiaji mengatakan saat ini kurang lebih sudah ada 32.000 faskes yang terintegrasi dengan platform Satusehat.

"Tapi sayangnya baru kirim data 19.000. Kami akan menyurati bagi yang belum kirim data," ujarnya.

Saat ini kurang lebih ada 80 juta data pasien di sistem tersebut. Yang belum banyak terintegrasi, katanya, adalah dokter praktik mandiri, termasuk klinik privat.

"Tapi kalau rumah sakit tinggal 5% yang belum terintegrasi," jelasnya. (Ifa)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Editor : Reynaldi

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat