visitaaponce.com

Pluralisme Adalah Sunnatullah

Pluralisme Adalah Sunnatullah
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal(MI/Seno)

PLURALISME dalam pandangan arifin mencerminkan nama-nama indah Tuhan (al-Asma al-husna). Dalam 99 nama di dalamnya terdapat sejumlah namanya yang berbeda satu sama lain.

Di antara nama-nama tersebut ada yang kontradiktif satu sama lain. Ada Yang Maha Awal (al-Awwal), tetapi ada Yang Maha Akhir (al-Akhir), ada Yang Maha Dhair (al-Dhahir), ada Yang Maha Menghidupkan (al-Hayy) dan ada Yang Maha Mematikan (al-Mumit). Ada Yang Maha Pemberi Petunjuk (al-Hadi), ada Yang Maha Membingungkan (al-Mudhil), ada Yang Maha Lahiriah (al-Dhahir), dan seterusnya.

Makhluknya juga berbeda-beda satu sama lain. Meskipun berbeda-beda, keseluruhan nama-nama tersebut tetap di bawah bingkai Lafz al-Jalalah, Allah.

Dalam kehidupan kita di level bawah juga ada Bhinneka Tunggal Ika yang maknanya menyerupai konsep Al-Asma al-Husna. Dengan kata lain, pluralisme cerminan dari al-Asma’ al-Husna.

Jika dicermati kitab suci paling banyak membahas toleransi dan pluralisme ialah Alquran. Sepertinya Alquran penuh percaya diri dan sekaligus mendeklarasikan dirinya sebagai agama terbuka untuk berbagai paham dan pemikiran.

Mungkin itulah hikmah Al-Qur’an sebagai kitab suci akhir zaman yang bersedia untuk berdialog dengan tuntutan zamannya. Jika Al-Qur’an sudah membuka diri sedemikian lebar terhadap perbedaan dan pluralitas maka semestinya umatnya juga menempuh sikap yang sama: terbuka dan penuh kelapangan dada menerima pluralitas dan heterogenitas masyarakat.

Di antara dalil-dalil agama yang penting untuk dicerna ialah sebagai berikut, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui (QS al-Rum/30: 22).

Dalam ayat lain dikatakan, “Lakum dinukum wa liyadin (Untukmu agamamu dan untukku agamaku).” Selain itu, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu,” (QS A-Hujurat/49:13).

Dalam ayat lain ditegaskan lagi, “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS Yunus/10:99). “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya,” (QS al-Qashash/28:56).

Di dalam ayat lain pun Allah SWT lebih tegas menekankan bahwa perbedaan setiap umat sudah dirancang sedemikian rupa, “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan,” (QS al-Maidah/5:48).

Dalam ayat lain Allah SWT memberikan suatu pernyataan indah, “Janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain,” (QS Yusuf/12:67).

Selain ayat-ayat tersebut di atas, terdapat juga sejumlah hadis dan pengalaman Nabi Muhammad SAW. Di antaranya yang sangat penting ialah Nabi sangat respek terhadap tokoh-tokoh agama lain. Nabi sering dikunjungi tokoh lintas agama di rumahnya (raudhah), dan ia sendiri langsung menjamu mereka di masjidnya.

Nabi juga selalu mewanti-wanti kepada para prajuritnya sebelum berangkat ke medan perang agar jangan mengganggu anak-anak, kaum perempuan, para orang tua bangka, dan jangan mengganggu pohon dan tamannya orang tua.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Editor : Riky Wismiron

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat