visitaaponce.com

Di Forum Master Plan on ASEAN Connectivity 2025, Dirjen Adwil Kemendagri sampaikan Progres Kerja ASCN

Di Forum Master Plan on ASEAN Connectivity 2025, Dirjen Adwil Kemendagri sampaikan Progres Kerja ASCN
MRE Master Plan on ASEAN Connectivity (MPAC) 2025 di Surabaya.(MI/HO)

SETELAH sukses  menggelar Puncak Pertemuan Tahunan Keenam ASEAN Smart City Network (ASCN) di Bali, 12-13 Juli 2023 lalu, yang dihadiri delegasi negara ASEAN, perwakilan negara-negara sahabat, dan berbagai partisipan dalam dan luar negeri, Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Safrizal ZA menyampaikan kemajuan perkembangan ASCN dalam forum yang mendiskusikan Master Plan on ASEAN Connectivity (MPAC) 2025 dalam rangka Monitoring, Review, dan Evaluasi (MRE) yang diselenggarakan di Surabaya, Selasa (25/7).

“Ada dua konteks strategis yang harus dihadapi ASCN. Pertama, bagaimana menghadapi kuatnya arus urbanisasi yang terus meningkat. Kedua, terjadi disrupsi digital yang  mempengaruhi semua aspek kehidupan manusia yang merevolusi cara kita hidup, bekerja, dan bermasyarakat,” kata Safrizal.

Safrizal menyebutkan pertemuan yang diinisiasi Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) untuk ASEAN itu, selain penting untuk menjadi instrumen isu dan langkah strategis, juga terutama untuk turut mensukseskan Chairmanship ASCN 2023 oleh Indonesia, baik pada tataran konseptual maupun praktikal.

Baca juga: Praktik Baik Akselerasi Transformasi PAUD Mengemuka di Forum Dialog Kebijakan PAUD ASEAN

“Tujuan utama Smart City adalah untuk meningkatkan kualitas hidup bagi warga melalui pemanfaatan teknologi, melalui skema-skema kerja sama  dalam pengembangan tata kelola kota sehingga dapat mewujudkan pelayanan publik yang responsif, efektif dan efisien. Konektifitas ASCN berada pada kerangka kerja tersebut,” jelas Safrizal.

Sekadar mengingatkan, sambung Safrizal, pada  2018, ada 26 kota percontohan yang masuk nominasi ASCN yang tersebar di seluruh negara anggota ASEAN seperti Bandar Seri Begawan dari Brunei Darussalam; Battambang, Phnom Penh, dan Siem Reap dari Kamboja; Makassar, Banyuwangi, dan DKI Jakarta dari Indonesia; Luang Prabang dan Vientiane dari Lao PDR; Johor Bahru, Kuala Lumpur, Kota Kinabalu, dan Kuching dari Malaysia; Nay Pyi Taw, Mandalay, dan Yangon dari Myanmar; Kota Cebu, Kota Davao, dan Manila dari Filipina; Singapura; Bangkok, Chonburi, dan Phuket dari Thailand; Da Nang, Hanoi, dan Kota Ho Chi Minh dari Viet Nam.  

Kini, ASCN memiliki 29 kota percontohan yang setiap kota diwakili Chief Smart City Officer (CSCO). Tentunya jumlah ini akan terus berkembang sejalan dengan masifnya pertumbuhan kota-kota dikawasan.

Baca juga: Partai Penguasa Kamboja Klaim Raih Kemenangan di Pemilu

“ASCN memiliki kerangka kerja yang mendorong implementasi inisiatif di  enam bidang fokus pembangunan perkotaan, yaitu kewarganegaraan, kesehatan dan kesejahteraan, keselamatan dan keamanan, kualitas lingkungan, infrastruktur dan industri dan inovasi,” papar Safrizal.

Sejalan dengan aspek-aspek tersebut, dalam Keketuaan ASCN 2023, Indonesia juga sukses mengadakan rangkaian 4 seri diskusi,  yang diselenggarakan untuk memfasilitasi ASCN Cities dan kota-kota lain di ASEAN untuk berbagi kemajuan dan tantangan mereka dalam mengimplementasikan kota cerdas untuk bertukar ide dan informasi, berbagi pengalaman dan pengetahuan, serta memperluas peluang potensi kerja sama. 

"Kesuksesan Indonesia dalam menyelenggarakan annual meeting yang lalu dan komitmen Indonesia sebagai shepered dalam memajukan ASCN akan terus diperkuat.  Tentunya kami mengajak seluruh pihak untuk berkolaborasi dalam pengembangan Smart City di Indonesia maupun di kawasan Asia Tenggara" pungkas Safrizal. (RO/Z-1)

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat