visitaaponce.com

Dunia yang tidak Baik-Baik Saja

Dunia yang tidak Baik-Baik Saja
Adiyanto Wartawan Media Indonesia(MI/Ebet)

PERSETERUAN Israel-Hamas dan konflik di Ukraina yang belum jelas ujungnya, ditambah meningkatnya ketegangan di kawasan Indo-Pasifik dan Afrika, menandakan dunia kini sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, The International Institute for Strategic Studies (IISS), sebuah lembaga pemikir militer yang berbasis di Inggris, menyebut era ini sebagai dekade yang mungkin lebih berbahaya. Dalam laporan tahunan mereka yang dirilis pertengahan bulan ini dikatakan dunia telah memasuki lingkungan keamanan yang sangat tidak stabil. Alasan mereka, kata laporan yang bertajuk Keseimbangan Militer itu, beberapa rezim melakukan tindakan berlebihan dengan mengeklaim wilayah lain.

Saya tidak akan memaparkan isi lengkap laporan itu di sini. Intinya, seperti yang saya bilang di atas, dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Saat ini, kita mungkin masih bisa hang out ngopi-ngopi di mal atau pelesir keluar kota setiap akhir pekan, tapi entah bulan atau tahun depan. Bukan mendoakan Indonesia dilanda perang, tapi sekadar mengingatkan dampak dari berbagai konflik yang terjadi di kancah global. Biar bagaimanapun, perang butuh ongkos. Ada biaya untuk beli amunisi dan peralatan tempur. Mau tidak mau, itu memengaruhi ketahanan fiskal mereka yang bertikai.

Tidak hanya itu, perang memengaruhi pasokan ekonomi global. Contohnya perang Rusia-Ukraina yang membuat harga energi dan komoditas pertanian melambung lantaran dua negara itu merupakan produsen gas dan pupuk kimia terbesar di dunia. Begitu pun dengan dampak serangan milisi Houti di Laut Merah yang telah mengganggu jalur pelayaran yang ujungnya dikhawatirkan juga bakal memengaruhi harga energi dan komoditas, termasuk mungkin kopi yang kita seruput setiap hari. Pahit memang, tapi itulah konsekuensinya. Belum lagi jika itu juga ikut memengaruhi usaha atau bisnis yang kita tekuni.

Baca juga : Kedaulatan Pangan

Sejauh ini, kondisi perekonomian Indonesia memang masih baik-baik saja. So far so good, kalau kata anak Jaksel. Buktinya, sepanjang tahun lalu pertumbuhan ekonomi masih di angka 5,05% yang, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, masih relatif lebih baik jika dibandingkan dengan negara-negara G-20 dan ASEAN. Jepang dan Inggris saja bahkan kini jatuh ke jurang resesi. Kita tentu tidak ingin Indonesia seperti itu. Di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu ini, kita tentu butuh orang-orang terbaik untuk menjaga perekonomian domestik, bukan macam mereka yang tidak becus sekadar untuk mengurus dan mengendalikan harga beras.

Kabinet ke depan, terutama yang akan menduduki pos-pos ekonomi, sebaiknya diisi mereka yang paham betul persoalan, bukan sekadar pertimbangan perkawanan. Apalagi tantangan ke depan tidak mudah. Jika diibaratkan tim sepak bola, kita butuh susunan pemain yang tangguh, solid, dan berpengalaman. Sejauh ini kita sudah berhasil menjadi negara berpendapatan menengah, bahkan diprediksi bisa melangkah lebih jauh lagi. Jangan sampai kita terperangkap di situ-situ saja (middle income trap), atau bahkan malah terdegradasi menjadi negara gagal, bangkrut, dan terbelakang.

Harus diakui, mengurus negara sebesar Indonesia tidaklah mudah. Lah wong memberi makan siang dan susu gratis saja sulit untuk mengotak-atik anggarannya, belum lagi untuk menyediakan lapangan kerja, membangun fasilitas pendidikan dan kesehatan, dan sebagainya. Harus ada skala prioritas mana yang paling penting dan dibutuhkan masyarakat, bukan sekadar membangun proyek prestisius yang ujungnya hanya menghambur-hamburkan anggaran. Kita semua tentu berharap Indonesa bisa lebih baik atau minimal tidak porak-poranda akibat pusaran puting beliung krisis global ini. Semoga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat