visitaaponce.com

Meneladani Nabi Ibrahim tentang Ketaatan dan Pengorbanan

Meneladani Nabi Ibrahim tentang Ketaatan dan Pengorbanan
Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Pendidikan dan Kaderisasi, KH Abdullah Jaidi.(Ist)

PERAYAAN Idul Adha atau yang juga dikenal dengan nama Idul Kurban merupakan salah satu perhelatan besar yang diperingati oleh seluruh umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia. Pada Idul Adha, umat Islam diperintahkan menyembelih hewan kurban dan membagikan dagingnya kepada yang membutuhkan.

Selain perkara pembagian daging kurban, perayaan Idul Adha juga mendidik umat Islam untuk memelihara ketaatannya terhadap perintah Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dicontohkan melalui kisahnya Nabi Ibrahim AS.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pendidikan dan Kaderisasi, KH Abdullah Jaidi menyampaikan bahwa peringatan Idul Adha menjadi momentum untuk meneladani ketaatan dan pengorbanan kepada Tuhan. Ia diperintah Allah untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail AS.

"Padahal itu adalah putranya yang diidam-idamkan puluhan tahun lamanya, setelah sebelumnya istrinya lama tidak memiliki anak. Tiba-tiba datang perintah dari Yang Maha Kuasa untuk menyembelih anaknya sendiri. Walaupun demikian, Nabi Ibrahim tetap menyatakan kesiapannya untuk melaksanakan perintah itu," jelas Kiai Abdullah Jaidi di Jakarta, Rabu (28/6).

Ketua Dewan Syura Al-Irsyad Al-Islamiyyah ini menjelaskan, kesiapan Nabi Ibrahim juga disampaikan kepada Nabi Ismail AS tanpa paksaan. Nabi Ismail mengerti bahwa perintah untuk menyembelih dirinya datang dari Allah. Bahkan Nabi Ismail menjawab kepada Nabi Ibrahim AS dengan berkata, "Silakan ayahanda, insya Allah, Allah Subhanahu wa ta'ala akan meneguhkan hatiku dengan ujian ini."

"Keduanya menunjukkan sikap ketaatan yang tinggi ketika diminta berkurban pertama kalinya pada Allah SWT. Kedua nabi Allah ini menjawab dengan ucapan, 'sami'na wa atho'na,' yang berarti kami dengar dan kami laksanakan. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS ini menjadi contoh pengorbanan secara jasadiyah atau fisik. Sementara itu, makna berkurban yang tersirat adalah mewujudkan rasa ketaatan," ujar Kiai Jaidi.

Ia juga menyampaikan bahwa berkurban adalah simbol bahwa hidup ini penuh dengan pengorbanan. Pengorbanan dalam hal ini adalah baik jiwa, raga, ataupun harta benda. Semangat Idul Kurban itu, selain menunjukkan rasa ketaatan kita, juga menunjukkan kedisiplinan dalam bekerja, berusaha, dan dalam kehidupan pada umumnya.


Baca juga: Haji dan Kurban Jadi Peristiwa Penting yang Jadi Pelajaran bagi Umat Muslim


"Sebagai umat yang menjunjung tinggi ketaatan, tentu diharapkan dapat memenuhi aturan-aturan yang ada. Hidup ini kalau tidak ada penegakan hukum, mustahil manusia ini akan bersandar kepada aturan. Jika aturan tidak tegak, maka akan menjadi liar manusia yang ada. Sifat liar ini menunjukkan ketidaktaatan terhadap aturan. Esensi dari perayaan Idul Kurban ini salah satunya adalah mewujudkan ketaatan dan kedisiplinan dalam hidup, sehingga kita akan berhasil pada perjalanan hidup ini," terangnya.

Idul Adha, imbuhnya, harus dijadikan momentum umat manusia untuk saling menghormati dan menebarkan kasih sayang. Pasalnya, tujuan hidup manusia saling menghormati dan saling menghargai. Itu penting agar sesama manusia tidak saling membinasakan jiwa orang lain tanpa sebuah kebenaran. Caranya dengan menegakkan aturan dan hukum untuk menciptakan ketentraman.

Selain itu, umat juga harus menegakkan kejujuran dan keadilan. Menurutnya, orang yang tidak menegakkan kejujuran dan keadilan pasti jiwanya itu dihantui perasaan bersalah dan ketakutan.

"Janganlah kita membuat sebuah keonaran, membuat gaduh, apalagi melakukan gerakan-gerakan yang bersikat radikalisme dan ekstremisme. Kita membuat ketenangan dalam hidup," tukasnya.

Kiai Jaidi juga menekankan pentingnya kasih sayang terhadap sesama manusia. Dalam momentum Hari Raya Kurban, daging dari hewan kurban itu selain diberikan kepada fakir miskin dari umat Islam, seharusnya juga diberikan kepada umat lain yang membutuhkan walaupun berbeda agamanya. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan rasa kemanusiaan dan kebersamaan dalam kehidupan ini, sekaligus sebagai semangat dari perayaan Idul Adha itu sendiri.

"Dalam akselerasi kehidupan kita, harus dibarengi juga dengan mewujudkan kebaikan melalui bingkai saling tolong-menolong dan kasih-mengasihi. Melalui ibadah kurban pula, kita semua mengharapkan adanya sebuah masyarakat yang marhamah, yang penuh kasih sayang. Adanya saling mengasihi dalam Idul Adha ini lah yang dapat membuat para kaum duafa dapat merasakan daging dari hewan yang dikurbankan, sebagaimana orang-orang yang berkecukupan merasakannya pada hari yang lain," katanya. (Ant/I-2)

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat