visitaaponce.com

Saat Invasi Rusia, Ukraina Rayakan Hari Kemenangan dan Persatuan Eropa

Saat Invasi Rusia, Ukraina Rayakan Hari Kemenangan dan Persatuan Eropa
Presiden Ukraina saat ini, Volodymyr Zelenskyy, merupakan cucu dari penyintas kamp konsentrasi fasis Nazi.(DOK Kedubes Ukraina di Indonesia.)

BANGSA Ukraina menyempatkan diri memperingati hari kemenangan atas Nazisme dalam Perang Dunia II yang berlanjut dengan Hari Persatuan Eropa. Tahun ini kedua perayaan begitu bermakna karena Ukraina tengah membebaskan diri dari upaya penjajahan Rusia.

Perang Dunia II di Eropa pecah, salah satunya akibat perseteruan ambisi pemimpin Jerman Adolf Hitler yang berhaluan fasisme dan diktator komunis Uni Soviet Joseph Stalin. Sedikitnya 60 juta orang tewas hingga akhirnya Nazi Jerman menyerah pada 8 Mei dan Perang Dunia II resmi berakhir. Sementara 9 Mei diperingati sebagai Hari Eropa untuk mengenang Deklarasi Schuman, Menteri Luar Negeri Prancis yang pada 9 Mei 1950 mengusulkan hubungan damai antarnegara Eropa. Saat itu Schuman merintis industri batu bara dan baja antara Prancis dan Jerman Barat.

Duta Besar Ukraina untuk Indonesia, Vasyl Hamianin, menuturkan seperti Hari Raya Paskah bagi umat Kristen dan Idul Fitri bagi warga Muslim Ukraina, hari kemenangan atas Nazisme dalam Perang Dunia II dan Hari Persatuan Eropa digelar dalam suasana keprihatinan. "Seluruh dunia menjadi saksi, Ukraina menjadi korban kelemahan, ketakutan, serta keragu-raguan masyarakat internasional pada saat itu akhirnya mendorong Rusia yang dipimpin diktator Vladimir Putin menjalankan ambisi dan kejahatan melalui agresi militer," tutur Hamianin dalam keterangan tertulis, Minggu (8/5).

Delapan dekade telah berlalu dan kini, lanjutnya, Rusia membuat Eropa harus kembali dipaksa menuju jurang perang global. "Hari ini, umat manusia harus menerima dan menyadari ketidakmampuannya untuk mengingat pengalaman pahit dan belajar dari sejarah Perang Dunia II." Pada 1939-1945, bangsa Ukraina berjuang bersama dengan koalisi anti-Hitler Tentara Merah, Tentara Pemberontak Ukraina, milisi Sekutu Barat, pasukan gerilya, serta gerakan bawah tanah dan berkontribusi besar dalam meraih kemenangan atas Nazisme. 

Tanah Ukraina, yang telah dilanda perang sebanyak dua kali, menjadi salah satu medan yang perang yang banyak memakan korban akibat penjajahan fasis Nazi maupun represi yang dilakukan komunis Uni Soviet. Presiden Ukraina saat ini, Volodymyr Zelenskyy, merupakan cucu dari penyintas kamp konsentrasi fasis Nazi. Tiga adik dari kakek Presiden Zelenskky diketahui tewas akibat holocaust. Sementara di masa Uni Soviet, imbuhnya, ribuan warga minoritas Muslim tewas dalam kamp yang dibangun pemerintah tangan besi komunis.  

"Dua masa tersebut membuat bangsa Ukraina sangat memahami akibat negatif dari perang dan represi. Sama seperti masa-masa sebelumnya, Ukraina berperang melawan agresor Rusia. Perjuangan kami ini telah berlangsung selama delapan tahun," tegas Hamianin. Seperti perjuangan bangsa Indonesia membebaskan diri dari penjajahan, lanjut dia, Ukraina dengan seluruh daya upaya hingga titik darah penghabisan tidak boleh ditaklukan Rusia yang menindas kebebasan, peradaban, demokrasi dan nilai-nilai kemanusiaan global.

"Jika 80 tahun lalu Ukraina melawan Nazisme, kali ini musuh yang harus dihadapi ialah Raschisme yakni fasisme dan nasionalisme imperial versi Vladimir Putin yang terbukti melakukan banyak pelanggaran serupa Adolf Hitler," tuturnya. Organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) nasional dan internasional telah mendapati banyak bukti tindak penjarahan, pembunuhan secara massal, pemerkosaan, perampok, penyiksaan, dan menerapkan kebijakan kerja paksa berikut menyiksa anak-anak dan perempuan. 

Baca juga: Kyiv Desak MSF untuk Evakuasi Tentara dari Pabrik Baja Azovstal

Mengikuti jejak para Stalinis dan Nazi, Rusia telah mencuri, menjarah, dan mengekspor gandum Ukraina. Pada saat yang sama, Rusia juga memblokir pengiriman dari pelabuhan-pelabuhan Ukraina sehingga mengancam seluruh sistem keamanan pangan global. Vasyl Hamianin mencatat Rusia kini seperti mengulang sejarah Nazi dalam cara yang lebih buruk. Selama dua tahun pendudukan kota Mariupol saat Perang Dunia II, Nazi membunuh 10.000 penduduk kota tersebut. Sementara Rusia hanya dalam kurun waktu dua bulan secara brutal membunuh puluhan warga sipil Mariupol melalui bom dan serangan udara menyasar sipil. 

"Hari Peringatan, Rekonsiliasi, dan Kemenangan atas Nazisme dalam Perang Dunia II berikut Hari Persatuan Eropa yang diperingati pekan ini merupakan hari untuk mengingat malapetaka mengerikan yang menimpa bangsa Ukraina," tegasnya.
Dengan demikian, lanjutnya, peringatan tanggal 9 Mei di Rusia yang diklaim memperingati hari kemenangan atas Nazisme justru merupakan propaganda sebuah bangsa yang dipimpin diktator peniru kejahatan dan kekejaman Nazi yang dipimpin Adolf Hitler. Untuk itu Ukraina mengecam keras niat Rusia untuk menggelar parade kemenangan yang hina di wilayah-wilayah Ukraina yang diduduki sementara serta kota-kota Ukraina yang telah dihancurkan secara sengaja melecehkan Konvensi Jenewa. (OL-14)

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Wisnu

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat