visitaaponce.com

DPR RI Desak Akhiri Standar Ganda dan Hipokrit dalam Konflik Palestina-Israel

DPR RI Desak Akhiri Standar Ganda dan Hipokrit dalam Konflik Palestina-Israel
Ketua BKSAP DPR RI Fadli Zon saat mengikuti rangkaian Sidang Umum ke-147 IPU di Luanda, Angola.(Ist/DPR)

PADA kesempatan di forum internasional di Sidang Umum ke-147 Inter-Parliamentary Union (IPU), Ketua BKSAP DPR RI Fadli Zon mengatakan, masyarakat telah dilemahkan oleh mentalitas neo-kolonial yang menerapkan standar ganda dan kemunafikan (hiprokrit).

Usulan yang mencerminkan semangat perdamaian dan penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia dilemahkan oleh sikap jahiliah di bawah narasi indah demokrasi, hak asasi manusia, dan kapitalisme.

"Saya menyerukan kepada dunia untuk mengakhiri standar ganda dan kemunafikan. Kita harus lebih objektif dan adil." tegas Fadli.

Baca juga: Israel Putus Jaringan Telekomunikasi di Gaza saat Melancarkan Serangan Darat

"Kejahatan perang tidak dapat diterima dan memalukan untuk menyebut mereka yang memperjuangkan tanah dan kebebasan mereka sebagai teroris, namun pada saat yang sama di belahan dunia lain menyebut mereka sebagai kebebasan pejuang," jelas Fadli saat Sidang Umum ke-147 IPU di Luanda, Angola, Kamis (26/10). 

Desak Jatuhkan Sanksi kepada Pelaku Kejahatan Kemanusiaan

BKSAP DPR RI menyerukan komunitas global untuk menjatuhkan sanksi kepada pelaku kejahatan kemanusiaan, dan mencari cara untuk menyelesaikan konflik melalui mekanisme yang adil, memprioritaskan dialog dan negosiasi, serta fokus pada resolusi jangka panjang untuk mengakhirinya permusuhan bukannya memicu ketegangan.

Seiring dengan upaya tersebut, ini juga merupakan momentum yang tepat untuk melakukan reformasi sistem internasional. BKSAP DPR RI mengajak Sidang Umum Inter-Parliamentary Union (IPU) ke-147 memperkuat efektivitas Sistem PBB.

Baca juga: Resolusi Gencatan Senjata di Gaza Disahkan, Eropa Terpecah

PBB harus bersikap netral dan tidak memihak, melakukan tindakan nyata untuk mengakhiri kekerasan, menegakkan keadilan berbasis hukum internasional, dan menciptakan perdamaian yang berkelanjutan. 

Demi proses perdamaian dunia, maka perlu sepenuhnya memperhitungkan suara negara-negara selatan ke dalam forum internasional. Tata kelola global harus bersifat inklusif, netral, dan mampu melibatkan semua pihak termasuk negara-negara berkembang dan terbelakang.

"Reformasi Dewan Keamanan PBB sangat dibutuhkan untuk memperkuat kemampuannya dalam pelaksanaan hukum internasional. Kita butuh konsensus global di mana tidak ada satu negara pun yang tidak didengarkan," ujar Fadli. 

Baca juga: PBB Peringatkan Lebih Banyak lagi Warga Gaza yang akan Tewas

Menurut Fadli, menegakkan keadilan, perdamaian, dan institusi yang kuat sebagaimana tercantum dalam SDGs-16 tidak akan berhasil, karena kejahatan perang dan pelanggaran HAM seperti terjadi di Palestina terus ditoleransi dan tidak diberi sanksi. 

Inter-Parliamentary Union (IPU) sebagai sebuah organisasi global yang demokratis, akuntabel, dan berdiri netral demi terciptanya keadilan, harus lebih tegas dalam menciptakan keadilan global dan menyelesaikan konflik di seluruh dunia. (RO/S-4)

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Deri Dahuri

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat