visitaaponce.com

Wakil Wantim MUI Zainut TauhidMudik Budaya Perekat Persatuan Jangan Jadikan Pro Kontra

Wakil Wantim MUI Zainut Tauhid:Mudik Budaya Perekat Persatuan Jangan Jadikan Pro Kontra
Pemudik bersepeda motor melintas di Jalan Raya Pantura Semarang - Kendal, Semarang, Jawa Tengah, Senin (8/4/2024).(ANTARA/Makna Zaezar)

MUDIK atau perjalanan ke kampung halaman telah menjadi tradisi dan fenomena yang selalu terjadi di setiap kali Lebaran tiba. Ada yang beranggapan mudik sangat diwajibkan karena saatnya bersilaturahmi dengan keluarga, atau salah satu bentuk bakti terhadap orangtua dan saudara. Ada juga yang menganggapnya sebagai sebuah tradisi, dan tidak ada keharusan dalam Islam.

Bagaimana sebenarnya mudik jika dilihat dari pandangan agama Islam? Apakah mudik berlandaskan atas kesadaran relijiusitas dalam hal ini agama atau sekadar budaya?

Mantan Wakil Menteri Agama ( Wamenag)  Zainut Tauhid Sa'adi yang juga Wakil Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI Pusat memaparkan memaknai mudik lebaran ini umat Islam tidak perlu menjadikan polemik atau pro kontra, apalagi saling menyalahkan sehingga menimbulkan perpecahan diantara umat Islam. Mudik lebaran memang tidak masuk katagori ibadah mahdhah atau ibadah yang sudah ditentukan aturannya dalam al-Qur'an maupun al-Hadits, seperti shalat, zakat, dan haji.

Baca juga : Dukung Program Mudik Gratis BUMN, ASDP Layani 800 Orang Pemudik di 3 Lintasan

"Mudik lebaran itu masuk dalam katagori ibadah ghairu mahdhah yang diartikan sebagai ibadah yang tidak ditentukan aturannya baik di al-Qur'an maupun al-Hadits. Tetapi mudik masuk sebagai perbuatan yang bisa mendatangkan kebaikan, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Sehingga jika dilaksanakan dengan niat ikhlas karena Allah SWT, maka bisa mendatangkan pahala," kata Zainut Tauhid di Jakarta, Senin, (8/4)

Zainut Tauhid mencontohkan ibadah ghairu mahdhah lainnya seperti belajar, mencari nafkah untuk keluarga, menolong sesama yang sedang dalam kesulitan, dan lain sebagainya.

Jadi menurut dia, sebaiknya mudik lebaran tidak perlu dijadikan polemik karena dapat menimbulkan perpecahan di kalangan umat. Bagi yang setuju silakan melaksanakan, bagi yang tidak setuju tidak usah menyalahkan. Karena hal tersebut tidak akan merusak keimanan kita. Sehingga tidak ada manfaatnya untuk diperselisihkan.

Baca juga : Rabu Dini Hari, Lalu lintas Tol Japek dari Karawang Arah Jakarta Padat 

Semua kembali kepada niatnya, jika niat mudik untuk membangun silaturahmi dengan orang tua, saudara, kerabat dan teman-teman, tidak melakukan kezaliman, meninggalkan shalat dan tidak melakukan perbuatan yang dilarang agama, Insyaallah mudiknya membawa manfaat dan mendapat pahala.

Tapi jika niat mudiknya karena ingin pamer kekayaan, kesuksesan dan keberhasilan, melakukan perbuatan dosa seperti mabuk-mabukan, menipu, menzalimi orang, meninggalkan kewajiban shalat dan lainya, maka mudiknya tidak mendatangkan pahala apa-apa bahkan berdosa.

"Momen mudik yang merupakan salah satu bentuk budaya yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, justru menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa," tegasnya

Baca juga : SnackVideo Gelontorkan Dana Rp700 Juta untuk Bantu Pengguna Mudik

Dia mencontohkan lagi manakala Rasulullah SAW sendiri pernah merasakan rindu pada Makkah, kota kelahiran-Nya. Hal itu terungkap dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam at-Tirmizi yang dilukiskan dengan indah jalinan cinta yang kuat antara Rasulullah SAW dengan kota kelahirannya Makkah.

"Betapa indahnya engkau wahai negeriku (Makkah). Betapa saya sangat cinta kepadamu. Sekiranya kaumku tidak mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan tinggal di tempat lain selainmu.’’

Ucapan ini dilontarkan saat Rasulullah meninggalkan kota kelahirannya, Makkah, dengan berlinangan air mata. Rasulullah terpaksa hijrah ke Madinah karena tekanan dan penganiayaan kaum Quraisy. Hadis ini menggambarkan betapa dalam cinta Rasulullah kepada tanah kelahirannya.

Zainut menukil Profesor Quraish Shihab pernah mengatakan mudik bukan sekadar pulang kampung, mudik adalah sebuah perjalanan spiritual yang penuh kelezatan rohani. Mudik adalah kelezatan rohani yang tiada tara.

"Itulah alasan orang-orang rela menempuh perjalanan jauh, menghabiskan waktu dan biaya, demi merasakan kembali kehangatan keluarga dan kampung halaman," pungkas Zainut. (H-2)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Editor : Indrastuti

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat