visitaaponce.com

Menkeu Sri Mulyani Bansos Merupakan Instrumen di Dalam APBN

Menkeu Sri Mulyani: Bansos Merupakan Instrumen di Dalam APBN
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati(ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

MENTERI Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa bantuan sosial (bansos) merupakan salah satu program dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

“Bansos adalah instrumen dalam APBN, yang telah dibahas bersama DPR RI dan disahkan menjadi undang-undang (UU) sebagai instrumen negara,” kata Sri Mulyani saat konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Selasa, (30/1).

Bansos termasuk dalam program perlindungan sosial (perlinsos) yang mencakup Program Keluarga Harapan (PKH) untuk 9,9 juta keluarga penerima manfaat (KPM), Kartu Sembako untuk 18,7 juta KPM, serta bantuan langsung tunai atau BLT El Nino untuk 18,6 juta KPM.

Baca juga: Sri Mulyani: LPDP Tengah Kembangkan Formulasi Student Loan

Selain itu, juga untuk subsidi BBM, listrik, bunga kredit usaha rakyat (KUR), hingga bantuan pangan.

Menkeu mengatakan mekanisme penyaluran bansos dilakukan melalui Kementerian Sosial dengan data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) serta data tambahan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang berfokus pada upaya pengentasan kemiskinan ekstrem.

Baca juga: Sri Mulyani: BLT masih Dibutuhkan untuk Jaga Daya Beli

“Jadi, eksekutor untuk program seperti PKH dan Kartu Sembako itu melalui Kementerian Sosial. Sementara bantuan pangan dalam bentuk beras eksekutornya itu adalah Badan Pangan Nasional (Bapanas),” ujar Menkeu.

Adapun nilai anggaran perlinsos ditingkatkan oleh Kementerian Keuangan. Pagu anggaran perlinsos pada 2023 yaitu sebesar Rp476 triliun, kemudian naik sebesar Rp20,5 triliun menjadi Rp493,5 triliun pada 2024.

“Kenaikan itu dibahas oleh pemerintah bersama DPR dan ditetapkan dalam UU. Jadi, kalau pemerintah menggunakan APBN, itu adalah uang APBN di mana sumber dan penggunaannya dibahas dan disetujui oleh DPR,” jelas Sri Mulyani.

Menkeu menyatakan APBN akan terus digunakan sebagai shock absorber untuk melindungi masyarakat, baik dari risiko perlambatan ekonomi global maupun situasi ekonomi domestik.

Bansos merupakan salah satu intervensi APBN dalam upaya menjaga daya beli masyarakat di tengah volatilitas harga pangan bergejolak.

Menkeu juga menambahkan bahwa intervensi APBN dalam mengendalikan harga pangan bergejolak tidak hanya melalui program bansos.

"Intervensi juga dilakukan melalui anggaran ketahanan pangan, yang tercatat sebesar Rp104,2 triliun pada tahun lalu dan Rp114,3 triliun pada tahun ini," kata Menkeu. (Try)

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat